Sahabat....
Engkau adalah mata hatiku. Kau telah membuka hati untukku menerima segala hal,
kau juga telah membawaku ke dalam dunia baru. Kita bersama memasukinya untuk
mengembara di dalamnya.
Sahabat....
Engkau abadi di otakku. Ketika aku melepasmu, kau telah memberikan setapak
kenangan. Ketika aku melepasmu, aku akan membangkitkan kenangan kita sehingga
bagiku hanyalah keledai yang jatuh di lubang yang sama.
Sahabat....
Engkau abadi di hatiku. Saat aku hampir putus asa dan hanya berfikir keegoisan,
aku ingat engkau yang mencintaiku. Itulah dimana aku mulai bangkit dan melawan
keegoisan demi harga diri di depanmu.
Sahabat....
Engkau adalah guruku. Kita telah bersama sekian tahun, membangun pribadi
masing-masing. Satu sama lain saling mempengaruhi, sehingga engkau mendidikan
kedisiplinan yang akan kubawa nanti di luar sana.
Sahabat....
Engkau adalah bagian dari diriku. Sejauh apa pun aku pergi meraih cita-cita,
dirimu tetap ada dadaku. Sehingga suatu saat aku akan bercerita pada orang di
negeri sana, engkau sangat berjasa bagi masa mudaku dulu.
Sahabat....
Kadang aku berfikir, dapatkah kita bertemu kembali nanti? Berkumpul, bercanda
riang saling melempar kata-kata. Ombak besar telah datang menghantam, batu
karang di bawah kita menghantui, dapatkah kita berkumpul seperti kemarin?
Sahabat....
Rimba kita masing-masing akan berbeda. Mungkin engkau berenang di samudra,
sementara aku mencabik-cabik ranting yang menghalangi jalanku di hutan. Namun
aku yakin, kau ingat aku.
Sahabat...
Kita pasti menghadapi pertikaian, perselisihan, sampai baku-hantam nanti karena
hidup adalah perlombaan. Namun bukan pengalaman berharga jika tidak ada itu
semua.
Sahabat...
Sadarkah, tak ada yang namanya ‘bekas sahabat’. Sahabat tak lekang oleh zaman
selama otak masih pada tempatnya. Selama sidik jari tidak berubah. Bahkan jika
aku menjadi orang lain, jasa-jasamu tetap tertanam di raga ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar